Masyarakat harus punya ketahanan ideologi untuk lawan terorisme | Beritaviral

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Pasang Iklan Anda Disini
ARTICLE AD BOX

Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Al Washliyah KH. Yusnar Yusuf Rangkuti mengatakan bahwa masyarakat kudu mempunyai ketahanan ideologi nan baik dalam menghadapi penyelundupan ancaman radikal terorisme.

"Untuk membentuk ketahanan ideologi masyarakat salah satunya dengan mendekati dan memberi pengarahan kepada para takmir masjid. Kenapa? Karena takmir masjid nan menentukan siapa nan mau jadi khatib, siapa nan mau jadi imam, siapa nan mau pidato di masjid tersebut," kata KH. Yusnar Yusuf Rangkuti di Jakarta, Rabu.

Menurutnya, masyarakat siaga kudu terwujud baik di level desa, tempat ibadah, sekolah, dan lingkungan sosial serta warganet nan siaga jika mau mempunyai ketahanan ideologi nan baik.

Dia menjelaskan bahwa para pengurus alias takmir kudu didekati dan diarahkan agar masjid tidak memberi ruang kepada dai serta penceramah nan menjadikan mimbar kepercayaan untuk menyebarkan ideologi ekstrem.

"Misalnya, saya alias orang lain mau jadi khatib di masjid itu, takmirnya lampau bilang ‘oh jadwal-nya sudah penuh, Anda tidak bisa masuk’. Lalu ada pengajian ‘takmirnya bisa menanyakan, kenapa ada pengajian, lampau apa temanya, lampau siapa nan memberikan alias menyampaikan pengajian itu," imbuhnya.

Baca juga: BNPT: Bangun ketahanan nasional hadapi ideologi radikal

Baca juga: Ketua MPR: Vaksinasi ideologi tingkatkan ketahanan Ideologi rakyat

Menurut Yusnar, tetap banyak takmir masjid tidak tahu alias tidak memahami ancaman dakwah nan menjurus ke ideologi alias aliran ekstrim lantaran masjid dibiarkan jalan sendiri tanpa ada pedoman dari pemerintah.

Yusnar menyampaikan bahwa untuk membentuk ketahanan ideologi perlu dilakukan upaya duduk berbareng antara pemerintah dengan ulama, serta pihak mengenai untuk membicarakan masalah tersebut secara bersama-sama agar tidak kontra produktif.

"Selama ini mau duduk berbareng itu susah sekali, dengan argumen waktu tidak ada dan sebagainya. Jadi kapan itu keselarasan itu bisa tercapai? Ya kudu duduk bersama. Kita bicarakan apa nan menjadi permasalahan," ucap Ketua Ikatan Persaudaraan Qari dan Qariah Hafiz dan Hafizah (IPQAH) Pusat ini.

Yusnar beranggapan bahwa saat ini penyebaran ideologi ekstrim ini banyak melalui media sosial (medsos). Seperti, misalnya, menyatakan kebencian terhadap pemerintah, menyebut pemerintah bohong, dan sebagainya.

"Lalu gimana caranya agar itu bisa terendam? Tentunya berikan kepada Ormas. Karena ormas punya kekuatan sampai di wilayah untuk meredam itu," tuturnya.

Baca juga: BNPT: Generasi muda kudu punya ketahanan ideologi demi Indonesia Emas

Selain itu, lanjutnya, mencegah penyebaran ideologi ekstrim ini kudu dimulai dari tingkat madrasah, dari para pembimbing lantaran mereka adalah pendakwah nomor satu nan dapat menjadi pemicu seorang anak terpapar mengerti radikal.

"Al Washliyah, misalnya, kami punya 1.700 sekolah, ada 9 universitas. Guru-guru itu kita berikan pemahaman dan penjelasan, 'tolonglah kalian didik anak-anak itu secara baik dan bagus.' kan ada itu namanya pendidikan psikologi, pengarahan konseling. Tentunya itu bisa sampai kepada anak-anak itu. Ajarkan kepercayaan nan baik, kan banyak sekolah kepercayaan dan banyak juga pesantren. Begitu saja selesai itu," ujar KH. Yusnar.

Pewarta: Hendri Sukma Indrawan
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2023

powered by Free-Counters.org