Koalisi Sipil Kecam Penembakan Gas Air Mata ke Suporter di Gresik | Beritaviral

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pasang Iklan Anda Disini
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNN Indonesia --

Aliansi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Kepolisian mengecam penembakan gas air mata nan dilakukan aparat kepolisian saat pertandingan Gresik United vs Deltras Sidoarjo di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik pada 19 November 2023.

Perwakilan aliansi sekaligus Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya menilai tindakan tersebut berlebihan.

"Aliansi mengecam segala corak tindakan Kepolisian nan melakukan penembakan gas air mata," kata Dimas dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam beberapa rekaman video, terlihat secara jelas Polisi melontarkan gas air mata ke arah suporter. Bahkan tembakan tersebut mengarah ke luar stadion menuju ke arah jalan raya.

Padahal, berasas info nan telah dihimpun aliansi sipil, pertandingan pada awalnya melangkah dengan tensi normal tanpa ada gesekan.

Kericuhan mulai terjadi saat pertandingan tersebut dimenangkan Deltras Sidoarjo dan mengakibatkan kekalahan tuan rumah Gresik United.

Namun, menurut Dimas, tak semestinya pihak kepolisian melontarkan gas air mata.

Aliansi menilai dalam peristiwa tersebut Kepolisian diduga telah menggunakan kekuatan secara berlebihan (excessive use of force).

Jika merujuk berasas Pasal 2 ayat (2) Perkapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, dinyatakan bahwa:

"Penggunaan kekuatan kudu melalui tahap mencegah, menghambat, alias menghentikan tindakan pelaku kejahatan alias Tersangka nan berupaya alias sedang melakukan tindakan nan bertentangan dengan hukum."

Selain itu, aliansi juga memandang ada upaya paksa penembakan gas air mata, meskipun beberapa suporter telah meminta personil Kepolisian untuk tidak menembakkan gas air mata.

Terlebih, dalam Perkapolri tertuang secara jelas bahwa penggunaan senjata api alias senjata kimia nan termasuk di dalamnya gas air mata kudu menjadi opsi terakhir jika situasi dianggap menimbulkan kekacauan.

Selain melanggar Peraturan Kapolri, Dimas menyebut tindakan nan dilakukan kepolisian juga merupakan pelanggaran atas peraturan FIFA.

FIFA secara jelas telah mengatur mengenai dengan larangan penggunaan gas air mata melalui FIFA Stadium Safety and Security Regulations.

"Dalam izin tersebut turut dijelaskan bahwa penggunaan senjata gas air mata telah dilarang oleh FIFA, apalagi tidak diperbolehkan dibawa dalam rangka mengamankan pertandingan sepak bola," ujar dia.

Selain itu, Tragedi Kanjuruhan, Kepolisian juga telah mengeluarkan Peraturan Polri Nomor 10 Tahun 2022 Tentang Pengamanan dan Penyelenggaraan Kompetisi Olahraga.

Inti dari peraturan itu adalah dilarang melakukan penembakan gas air mata, granat asap dan senjata api sebagaimana nan telah dijelaskan dalam pasal 31 peraturan tersebut.

"Penggunaan gas air mata dalam upaya pembubaran massa suporter dalam peristiwa ini secara jelas merupakan tindakan nan tidak tepat," ucapnya.

Aliansi pun mendorong agar Kapolri mengevaluasi secara menyeluruh kepada anggotanya, termasuk nan bertanggung jawab di lapangan mengenai dengan dugaan tindakan penggunaan kekuatan secara berlebihan.

"Kami mendorong agar investigasi dijalankan secara transparan dan akuntabel serta terhadap pelaku penembakan agar dihukum sesuai dengan prosedur nan berlaku," tutur Dimas.

Sebelumnya, Kapolres Gresik AKBP Adhitya Panji Anom mengatakan argumen abdi negara menggunakan gas air mata saat bentrok dengan suporter untuk tindakan preventif. Hal itu diklaim juga sudah sesuai prosedur.

Adhitya mengatakan bentrok itu dipicu kekecewaan suporter Gresik United nan diekspresikan dengan melakukan pelemparan batu terhadap kendaraan bus pemain Deltras Sidoarjo.

"Sehingga pihak kepolisian mengambil langkah-langkah preventif dengan menembakkan gas air mata secara prosedur di luar stadion untuk membubarkan massa," kata Adhitya, melalui keterangannya, Senin (20/11) awal hari.

(yla/bmw)

[Gambas:Video CNN]

powered by Free-Counters.org